REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hybe merilis video teaser yang mengumumkan kehadiran light stick resmi terbaru grup K-pop BTS, Army Bomb VER. 4. Pembaruan ini muncul setelah sekitar enam tahun sejak versi sebelumnya, Special Edition (SE), merajai stadion-stadion dunia.
Namun, alih-alih disambut dengan perayaan meriah, pengumuman melalui aplikasi Weverse ini justru memicu gelombang protes dan kritik tajam yang masif. Titik persoalannya bukan pada desain atau fitur baru yang ditawarkan, melainkan kebijakan operasional yang dianggap sangat merugikan bagi mereka yang sudah memiliki versi lama.
Dalam pengumuman resminya, terungkap bahwa dukungan kontrol nirkabel (wireless control) untuk versi-versi sebelumnya hanya akan dipertahankan hingga konser di Las Vegas pada Mei 2026. Begitu memasuki konser di Busan pada Juni, kendali nirkabel yang biasanya menciptakan lautan cahaya warna-warni yang sinkron di stadion hanya akan didukung melalui versi VER. 4 yang terbaru.
Hal ini praktis membuat jutaan light stick versi lama kehilangan fungsi utamanya saat konser berlangsung, dan inilah yang memicu kekecewaan mendalam di kalangan Army. Banyak yang merasa bahwa kebijakan ini adalah cara halus untuk memaksa penggemar merogoh kocek lagi demi membeli produk baru.
Berbagai forum daring seperti Theqoo langsung dipenuhi dengan komentar pedas dan rasa frustrasi. Salah satu warganet meluapkan kekesalannya.
“Aku akan membelinya, tetapi tidak bisa terhubung dengan versi lama itu sangat menjengkelkan,” tulis warganet tersebut dikutip dari laman Koreaboo pada Jumat (6/2/2026).
Ada pula yang melihat kebijakan ini sebagai langkah rakus dari pihak agensi, dengan menyebut, “Jika mereka tidak mau terhubung ke versi sebelumnya, maka mereka pada dasarnya memaksa semua orang untuk membeli versi baru. HYBE benar-benar sekumpulan orang gila yang gila uang,” kata yang lain.
Ungkapan kekecewaan ini bukan tanpa alasan, mengingat harga sebuah light stick resmi tidaklah murah dan banyak penggemar yang bahkan belum sempat sering menggunakan versi SE mereka. Selain masalah finansial, isu lingkungan juga menjadi sorotan tajam di tengah perdebatan ini.
Seorang warganet mengingatkan dampak ekologis dari kebijakan pembaruan paksa tersebut. “Mereka butuh beberapa hukum untuk melawan ini, pikirkan tentang semua limbah plastik yang akan dihasilkan setiap kali versi baru keluar,” ujarnya.
Kritik ini dinilai relevan mengingat industri K-pop sering kali dikritik karena produksi barang-barang koleksi yang masif. Ada juga sentimen yang merasa bahwa inovasi yang ditawarkan tidak sebanding dengan pemaksaan yang dilakukan. “Ini konyol, tidak membiarkan versi lain terhubung. Jika mereka ingin menjual yang baru, mereka seharusnya membuat versi yang sangat keren sehingga orang akan mau membelinya apa pun yang terjadi,” tulis warganet.

11 hours ago
4
























:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5443764/original/087417800_1765723952-Ada_robot_AI_bisa_kung_fu_di_Oppo_Flagship_Store_05.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5439915/original/092451700_1765414469-MADRID.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5443743/original/090820000_1765722056-davide-bartesaghi-ac-milan-mencetak-gol-pembuka-serie-a.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5394026/original/020373200_1761623330-vini.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5384569/original/003882600_1760795116-FajarFikri5_SF_DenmarkOpen2025_PBSI_20251018.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5437168/original/006946800_1765229221-AP25342741496384.jpg)
