Stonehenge di Inggris(Doc unsplash/Ana Paula Grimaldi)
PENELITIAN terbaru mengenai monumen prasejarah Stonehenge di Inggris kembali menarik perhatian komunitas ilmiah internasional setelah para peneliti mengungkap bukti baru tentang cara batu-batu raksasa tersebut dibawa ke situs di Salisbury Plain.
Selama bertahun-tahun, asal dan metode transportasi megalit-megalit Stonehenge menjadi perdebatan panjang antara para arkeolog, namun sekarang gambaran yang lebih jelas mulai terbentuk.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Communications Earth and Environment menyajikan bukti kuat bahwa batu-batu yang dikenal sebagai bluestones tidak dibawa ke lokasi oleh proses alami seperti gletser melainkan sengaja diangkut oleh manusia kuno dari lokasi yang sangat jauh.
Analisis mineral unik dari fragmen batu menunjukkan bahwa bluestones yang kini tersusun dalam lingkaran di Stonehenge kemungkinan berasal dari wilayah di Skotlandia timur laut, ribuan kilometer dari situs itu sendiri. Hasil ini menantang teori lama yang menyebutkan batu-batu ini diantar oleh gletser selama zaman es.
Peneliti menggunakan detrital zircon-apatite fingerprinting, sebuah teknik untuk membandingkan sidik kimia mineral batu dengan batuan asalnya di alam.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa jejak mineral di bluestones cocok dengan batuan di Orcadian Basin, Skotlandia, memberikan petunjuk bahwa masyarakat Neolitikum yang membangun Stonehenge memiliki kemampuan organisasi sosial dan teknologi transportasi yang jauh lebih maju daripada yang pernah diperkirakan.
Selain itu, riset lain yang dipublikasikan dalam Internet Archaeology mengungkapkan bahwa lanskap di sekitar Stonehenge juga memiliki struktur monumental tambahan berupa lingkaran lubang yang sangat dalam, masing-masing mencapai 10 meter dan ditempatkan dalam pola yang teratur di sekitar Durrington Walls.
Analisis sedimen dan DNA lingkungan dari tanah di sana menunjukkan bahwa fitur ini sengaja dibuat manusia sekitar 4.000 tahun lalu dan bukan formasi alamiah. Keberadaan lubang-lubang ini mempertegas kompleksitas budaya dan kepercayaan masyarakat prasejarah di wilayah ini.
Para ahli percaya bahwa tujuan di balik pembangunan Stonehenge dan struktur sekitarnya tidak hanya sekadar monumen batu, tetapi juga bagian dari lanskap ritus dan kosmologi yang mencerminkan struktur sosial, kepercayaan, serta pengetahuan Neolitikum tentang alam dan kosmos.
Penemuan-penemuan baru ini memperkuat pemahaman bahwa pembangun Stonehenge bukan sekedar pekerja kasar, tetapi masyarakat yang terorganisir dengan keterampilan sosial dan teknis tingkat tinggi untuk zamannya.
Dengan setiap temuan baru, teka-teki Stonehenge semakin terurai. Apa yang dulunya dianggap misteri kini mulai memperoleh jawaban ilmiah yang rinci, memperkaya narasi tentang bagaimana manusia prasejarah berpikir, bekerja, dan berinteraksi dengan lingkungannya jauh ribuan tahun yang lalu.
Sumber: ScienceDaily, jurnal Communications Earth and Environment

6 hours ago
1
























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5439915/original/092451700_1765414469-MADRID.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5443764/original/087417800_1765723952-Ada_robot_AI_bisa_kung_fu_di_Oppo_Flagship_Store_05.jpg)







:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5443743/original/090820000_1765722056-davide-bartesaghi-ac-milan-mencetak-gol-pembuka-serie-a.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5437168/original/006946800_1765229221-AP25342741496384.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5394026/original/020373200_1761623330-vini.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5384569/original/003882600_1760795116-FajarFikri5_SF_DenmarkOpen2025_PBSI_20251018.jpg)
