Liputan6.com, Jakarta - Virus Nipah kembali menjadi perhatian dunia setelah sejumlah kasus dilaporkan di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Meski tergolong langka, virus ini dikenal sangat mematikan dengan tingkat kematian yang tinggi. Pertanyaan yang paling sering muncul di masyarakat adalah, bagaimana Virus Nipah menular dan mengapa dampaknya bisa begitu fatal?
Virus Nipah merupakan penyakit Zoonosis, artinya dapat menular dari hewan ke manusia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa penularan virus Nipah tidak hanya berasal dari hewan, tapi juga bisa terjadi melalui makanan yang terkontaminasi dan kontak antarmanusia.
Bagaimana penularan virus Nipah? Penularan Virus Nipah paling sering dikaitkan dengan kelelawar buah dari keluarga Pteropodidae yang menjadi inang alaminya, seperti dikutip dari WHO International pada Senin, 2 Februari 2026.
Kelelawar ini tidak sakit, tapi dapat membawa virus dan menularkannya ke lingkungan sekitar. Dan, manusia bisa terinfeksi Virus Nipah melalui beberapa cara.
- Kontak langsung dengan hewan terinfeksi seperti kelelawar, babi, atau kuda. Pada wabah sebelumnya, babi menjadi perantara utama penularan ke manusia, terutama pada peternak.
- Melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi, terutama buah atau produk buah yang terkena air liur, urine, atau kotoran kelelawar. WHO menyoroti konsumsi nira kurma mentah sebagai salah satu jalur penularan utama di Bangladesh dan India, seperti dikutip dari UK Health Security Agency.
- Penularan dari manusia ke manusia. Penularan ini terjadi melalui kontak dekat dengan pasien, terutama anggota keluarga atau tenaga kesehatan yang merawat pasien tanpa perlindungan memadai. Risiko penularan meningkat di rumah sakit yang padat, ventilasi buruk, dan penerapan pencegahan infeksi yang tidak optimal.
Mengapa Virus Nipah Sangat Mematikan?
Salah satu alasan virus Nipah sangat berbahaya adalah kemampuannya menyerang sistem saraf dan pernapasan secara bersamaan. Masa inkubasi Virus Nipah berkisar antara tiga hingga 14 hari, meski dalam kasus tertentu bisa lebih lama.
Gejala awal sering kali tidak spesifik, seperti demam, sakit kepala, lemas, atau nyeri otot, sehingga kerap terlambat dikenali.
Pada fase lanjut, Virus Nipah dapat menyebabkan radang otak (ensefalitis) yang ditandai dengan kebingungan, kejang, hingga penurunan kesadaran.
Gangguan pernapasan berat juga dapat terjadi, termasuk pneumonia dan gagal napas. Kondisi inilah yang membuat tingkat kematian Virus Nipah sangat tinggi.
WHO dan sejumlah otoritas kesehatan memperkirakan 40 hingga 75 persen pasien virus Nipah meninggal dunia. Bahkan, pada pasien yang selamat, sekitar satu dari lima orang dapat mengalami gangguan saraf jangka panjang, seperti kejang berulang atau perubahan kepribadian.
Tantangan Pengobatan dan Pencegahan Virus Nipah
Hingga saat ini, belum ada obat maupun vaksin khusus untuk virus Nipah. Penanganan yang tersedia hanya berupa perawatan suportif intensif, seperti pemberian oksigen, ventilasi mekanik, serta penanganan komplikasi organ.
Oleh sebab itu, deteksi dini dan perawatan cepat menjadi faktor penting untuk menekan risiko kematian.
WHO telah menetapkan Virus Nipah sebagai patogen prioritas global dalam agenda penelitian dan pengembangan. Sejumlah kandidat vaksin dan terapi masih dalam tahap riset.
Dari sisi pencegahan, masyarakat diimbau untuk menghindari konsumsi buah yang tidak dicuci bersih, tidak mengonsumsi nira kurma mentah, menghindari kontak dengan hewan sakit, serta menjaga kebersihan tangan.
Di fasilitas kesehatan, penerapan pencegahan dan pengendalian infeksi yang ketat menjadi kunci mencegah penularan lebih lanjut.
Dengan memahami bagaimana Virus Nipah menular dan mengapa sangat mematikan, kewaspadaan dapat ditingkatkan sejak dini.
Meski risikonya rendah bagi masyarakat umum, langkah pencegahan sederhana tetap penting untuk melindungi diri dan lingkungan sekitar.

8 hours ago
1
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5490592/original/076413200_1770017071-Ilustrasi_Berjalan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489596/original/062151300_1769911320-dokter_kandungan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489604/original/071374200_1769912719-baby_walker.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5084740/original/064308700_1736341715-20250108-Tjandra_Yoga_Aditama-ANG_11.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5484239/original/095859500_1769417705-woman-working-her-laptop.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5488195/original/057422900_1769740878-Kelelawar_di_rumah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5489794/original/049116000_1769932838-burung.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5483962/original/043517500_1769409749-Dimsum.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5005443/original/082408800_1731580431-WhatsApp_Image_2024-11-14_at_16.52.45.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5079554/original/053036300_1736152503-1735888151046_ciri-kulit-sensitif.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5448340/original/073102400_1766026912-10.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481058/original/034088000_1769075544-BPOM_Obat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4688985/original/049033200_1702788477-tttttiga.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5257226/original/082879800_1750306833-healthy-beautiful-young-asian-runner-woman-sports-clothing-running-jogging.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5169144/original/068519000_1742484312-WhatsApp_Image_2025-03-20_at_22.19.59__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4566838/original/059797900_1694070291-3d-rendering-biorobots-concept.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5068462/original/098513000_1735277782-1735034891153_arti-mimpi-anak-sakit.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3381448/original/032968300_1613719892-wooden-spoon-fork-as-clock-hands-white-plate_49149-1007.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3543485/original/026270900_1629265067-20210818-FOTO---VAKSINASI-IBU-HAMIL-HERMAN-1.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5439915/original/092451700_1765414469-MADRID.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5443764/original/087417800_1765723952-Ada_robot_AI_bisa_kung_fu_di_Oppo_Flagship_Store_05.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5443743/original/090820000_1765722056-davide-bartesaghi-ac-milan-mencetak-gol-pembuka-serie-a.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5437168/original/006946800_1765229221-AP25342741496384.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5394026/original/020373200_1761623330-vini.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5384569/original/003882600_1760795116-FajarFikri5_SF_DenmarkOpen2025_PBSI_20251018.jpg)
