Saat Nilai Jadi Segalanya, Apa yang Terjadi pada Mental Anak di Sekolah?

5 days ago 6
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah tuntutan akademik yang semakin tinggi, sekolah dan orang tua kerap berlomba mengejar nilai, ranking, dan target capaian. Prestasi akademik sering dijadikan tolok ukur utama keberhasilan anak. Namun, di balik angka-angka tersebut, ada satu aspek krusial yang kerap terabaikan, yakni kesehatan mental dan rasa aman emosional anak di sekolah.

Psikolog anak Anastasia Satriyo, M.Psi., mengatakan bahwa proses belajar tidak bisa dilepaskan dari kondisi emosional. "Otak anak tidak bisa belajar optimal saat ia berada dalam situasi bertahan hidup secara emosional," ujarnya.

Ketika anak merasa tertekan, takut salah, atau khawatir tidak memenuhi ekspektasi, otak akan lebih fokus melindungi diri dibanding menyerap pelajaran. Rasa aman menjadi fondasi utama dalam proses belajar. Anak yang merasa diterima, tidak dihakimi, dan tidak dibandingkan akan berada dalam kondisi emosional yang stabil.

Dalam situasi ini, bagian otak yang berperan dalam berpikir, memahami, dan memecahkan masalah dapat bekerja dengan baik. Anak pun lebih berani mencoba, bertanya, dan belajar dari kesalahan.

Sebaliknya, lingkungan belajar yang menekankan nilai semata dapat memicu tekanan psikologis. Anak yang terus-menerus takut mendapat nilai buruk atau dimarahi cenderung menunjukkan perilaku yang sering disalahartikan sebagai malas atau tidak fokus.

"Padahal, yang terjadi adalah otaknya sedang berada dalam mode bertahan hidup," tambah Anastasia.

Anak Berharga Ketika Ranking di Sekolah

Masalah makin kompleks ketika pesan yang tersampaikan adalah anak hanya berharga jika berprestasi. Fokus berlebihan pada angka dan peringkat secara tidak sadar membentuk pola pikir bahwa kegagalan adalah aib. Anak pun belajar mengejar hasil, bukan memahami proses.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menggerus kepercayaan diri dan rasa ingin tahu alami anak. Anastasia, menambahkan, anak yang kesulitan secara akademik sering kali merasa dirinya bermasalah. Padahal, bisa jadi gaya belajarnya tidak sesuai dengan sistem pengajaran yang diterapkan. Jika dibiarkan, tekanan ini berisiko memicu kelelahan mental atau burnout sejak usia dini.

Di sinilah pendekatan pembelajaran reflektif menjadi penting. Melalui refleksi, anak diajak memahami bahwa dirinya lebih dari sekadar nilai. Anak belajar mengenali kekuatan, memahami area yang perlu dikembangkan, dan menerima kegagalan sebagai bagian dari proses belajar.

"Model reflektif mengajarkan anak bahwa dirinya adalah proses, bukan sekadar hasil akhir," ujar Anastasia.

Kesejahteraan Mental Anak di Sekolah

Pendekatan ini juga diterapkan oleh sejumlah sekolah yang menempatkan kesejahteraan emosional sebagai bagian dari pembelajaran. Head of School North Jakarta Intercultural School (NJIS), Ezra Alexander, mengatakan, pengalaman belajar tidak dapat dipisahkan dari kondisi mental siswa.

"Belajar adalah pengalaman hidup anak di sekolah, bukan hanya pencapaian akademik," katanya.

Menurut Ezra, kurikulum yang seimbang dapat menciptakan ruang aman bagi anak untuk belajar dan bertumbuh. Kurikulum International Baccalaureate (IB) yang diterapkan di NJIS, misalnya, memberi ruang bagi refleksi, kesadaran diri, dan keberanian untuk mencoba kembali setelah gagal.

"Anak perlu merasa cukup aman untuk berkata ‘aku belum bisa’, lalu cukup percaya diri untuk mencoba lagi. Di situlah pembelajaran yang sesungguhnya terjadi," ujar Ezra.

Ketika sekolah menjadi ruang aman yang menghargai proses, anak tidak hanya tumbuh secara akademik, tapi juga secara emosional. 

Read Entire Article