Liputan6.com, Bandung - Virus Nipah tercatat ada dua kasus konfirmasi dan tiga kasus suspek virus Nipah di Benggala Barat, India per 23 Januari 2026. Hingga saat ini, belum ada laporan kematian.
Jauh sebelum kasus di India ini, virus Nipah pertama kali teridentifikasi di Malaysia pada sebuah peternakan babi di Sungai Nipah. Pada tahun 1998-1999 kasus virus Nipah di Negeri Jiran berdampak hingga Singapura. Dari wabah tersebut, dilaporkan 276 kasus konfirmasi dengan 106 kematian seperti mengutip laman Infeksi Emerging Kemenkes RI.
"Ya, jadi memang virus Nipah ini sudah lama. Pernah ada wabah waktu itu tahun 1999 di Malaysia dan Singapura. Kemudian tahun 2001 ada di Bangladesh dan tiga tahun kemudian di India. Dan sekarang rame lagi di India," ujar Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Pasundan (FK Unpas) Bandung, dr Primal Sudjana, Sp.PD, KPI kepada Liputan6com ditulis Jumat (30/1/2026).
Pada periode itu kata Primal, meski negara yang dilaporkan terpapar virus Nipah berdekatan dengan Indonesia tapi tidak ada laporan pasien positif terinfeksi di Tanah Air. Artinya sebut Primal, belum ada pemeriksaan pasien terpapar virus Nipah secara klinis ditemui pada saat marak terjadi di berbagai negara tersebut.
"Di Indonesia belum ada laporan sampai saat ini. Artinya belum ada dideteksi yang positif, apakah virus itu sudah masuk? Kita (indonesia) dengan Singapura dan Malaysia itu bukannya jauh. Barta ke Singapura tinggal menyeberang, tetapi kita belum terdeteksi," kata Primal.
Primal menerangkan untuk mendeteksi adanya infeksi virus Nipah ini tidak bisa dilakukan oleh fasilitas kesehatan biasa. Biasanya di Indonesia, untuk meneliti sampel virus dilakukan di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Balitbangkes) RI dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.
Penularan via Kelelawar
Selain rekam jejak paparan virus Nipah di beberapa negara di Benua Asia, Primal juga mengingatkan bahwa pemicu virus Nipah berasal dari kelelawar. Kelelawar yang membawa virus Nipah itu kemudian melakukan kontak dengan hewan ternak, biasanya dengan babi.
"Nah, jadi babi itu tertular. Babi tertular oleh virus Nipah yang dibawa dari kelelawar. Kalau sekarang mungkin di peternakan babi atau ada peternakan yang lain, mungkin kuda itu sudah mengandung virus nipah karena sumbernya sih memang di kelelawar. Kelelawarnya ada di Indonesia," terang Primal.
Primal menyebut Nipah sebagai virus eksotik karena langka paparannya tersebut, menjadi lebih berbahaya usai ditularkan kelelawar ke hewan babi. Pasalnya, sebagian besar virus menjadi ganas karena babi sebagai wadah pengembangannya.
Untuk itu Primal mewanti-wanti agar pekerja ataupun yang memiliki kontak erat dengan hewan babi supaya beraktivitas dengan aman.
"Kalau yang wabah di Malaysia dan Singapura, kalau enggak salah waktu itu kontaknya dari babi. Tapi kemudian penularannya juga bisa dari orang ke orang virus ini. Close contact," ungkap Primal.
Primal memaparkan masa inkubasi virus Nipah ini bervariasi dari 5-16 hari dan 3-16 hari. Namun yang jelas pada hari ke-16 rasa sakit akibat penyakit yang ditularkan oleh hewan dan manusia ke manusia (zoonosis) ini mulai terlihat.
Tetapi ada pula orang yang sudah terinfeksi virus Nipah, kondisi tubuhnya tetap normal seperti sebelumnya yang kerap disebut pasien subklinis.
"Nah, tapi dia bisa ada yang subklinis subklinis itu jadi enggak terasa sakit gitu ya. Biasanya bergejala terutama terjadi infeksi saluran nafas, batuk, pilek, segala macam gitu. Dan yang paling fatal adalah radang otak. Virus Nipah ini mudah menyebar dari satu orang ke orang, baik dari hewan ke manusia. Atau dari orang yang sakit ke orang yang sehat yang mengurusnya. Jadi yang kontak erat," tukas Primal.
Jangan Mengonsumsi Buah Sisa Gigitan Kelelawar
Selain penularan antar hewan ke manusia dan manusia ke manusia, Primal mengatakan penularan virus Nipah ini dapat terjadi dengan mengonsumsi buah yang sudah digigit kelelawar.
Pada dasarnya ungkap Primal, kelelawar penyebar virus Nipah ini adalah jenis pemakan buah. Kemungkinan besar, buah yang telah digigit oleh kelelawar akan terpapar virus yang sama.
"Jadi kadang-kadang ada orang yang memungut buah yang bekas itu. Nah, dia bisa tertular gitu. Jadi jangan dilakukan, hindari memungut buah yang ada bekas gigitannya walaupun masih ada di tangkainya," sebut Primal.
Sama halnya dengan pengolahan air nira dari buah aren yang kerap dikonsumsi tanpa dimasak terlebih dahulu. Primal menyebut mengosumsi air nira secara langsung berpotensi terpapar virus Nipah.
Imbauan Kemenkes RI untuk Mencegah Terinfeksi Virus Nipah
Dilansir Liputan6, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI telah mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi buah yang memiliki bekas gigitan kelelawar.
"Tidak mengonsumsi buah dengan bekas gigitan kelelawar," demikian keterangan pers yang disampaikan Juru Bicara Kemenkes, Widyawati pada Selasa, 27 Januari 2026.
Selain itu, Kemenkes juga menyampaikan sejumlah imbauan lain yang perlu diperhatikan masyarakat, antara lain:
1. Cuci dan kupas buah secara menyeluruh sebelum dikonsumsi.
2. Hindari kontak dengan hewan terinfeksi.
3. Perkuat imunitas tubuh dengan terapkan perilaku hidup bersih dan sehat (cuci tangan pakai air dan sabun, konsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, rajin aktivitas fisik)
4. Apabila melakukan perjalanan ke India dan negara terjangkit penyakit virus Nipah disarankan untuk mengikuti imbauan protokol kesehatan dari MoH India/otoritas negara setempat.
5. Segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala penyakit Nipah (demam, batuk, pilek, sesak napas, muntah, penurunan kesadaran/kejang) pasca kepulangan (hingga 14 hari) dari India/negara terjangkit.
Sementara itu, di Indonesia belum ditemukan kasus konfirmasi penyakit virus Nipah. "Hingga saat ini belum dilaporkan adanya kasus konfirmasi penyakit virus Nipah di Indonesia," ujar Widyawati dalam keterangan tersebut.

3 days ago
2
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5490592/original/076413200_1770017071-Ilustrasi_Berjalan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489596/original/062151300_1769911320-dokter_kandungan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489604/original/071374200_1769912719-baby_walker.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5084740/original/064308700_1736341715-20250108-Tjandra_Yoga_Aditama-ANG_11.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5484239/original/095859500_1769417705-woman-working-her-laptop.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5488195/original/057422900_1769740878-Kelelawar_di_rumah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5489794/original/049116000_1769932838-burung.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5483962/original/043517500_1769409749-Dimsum.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5485209/original/002570800_1769498234-nipah_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5005443/original/082408800_1731580431-WhatsApp_Image_2024-11-14_at_16.52.45.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5079554/original/053036300_1736152503-1735888151046_ciri-kulit-sensitif.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5448340/original/073102400_1766026912-10.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481058/original/034088000_1769075544-BPOM_Obat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4688985/original/049033200_1702788477-tttttiga.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5257226/original/082879800_1750306833-healthy-beautiful-young-asian-runner-woman-sports-clothing-running-jogging.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5169144/original/068519000_1742484312-WhatsApp_Image_2025-03-20_at_22.19.59__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4566838/original/059797900_1694070291-3d-rendering-biorobots-concept.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5068462/original/098513000_1735277782-1735034891153_arti-mimpi-anak-sakit.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3381448/original/032968300_1613719892-wooden-spoon-fork-as-clock-hands-white-plate_49149-1007.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5439915/original/092451700_1765414469-MADRID.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5443764/original/087417800_1765723952-Ada_robot_AI_bisa_kung_fu_di_Oppo_Flagship_Store_05.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5443743/original/090820000_1765722056-davide-bartesaghi-ac-milan-mencetak-gol-pembuka-serie-a.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5437168/original/006946800_1765229221-AP25342741496384.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5394026/original/020373200_1761623330-vini.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5384569/original/003882600_1760795116-FajarFikri5_SF_DenmarkOpen2025_PBSI_20251018.jpg)
